By Febi,7 Juni 2009
Dia Awan.
Berputus asa karena tak dapat memeluk Bulan
Tak dapat karena tak ada keberanian
Akhirnya hidupnya sendiri.Sendirian.
Suatu senja Awan berjalan di taman
Taman dimana bertemunya dengan Sang Bulan
Enggan untuk mengenangnya,wajahnya lagi – lagi lesu
Terbanting dengan bunga – bunga penuh warna di sekitarnya
“Awan!”, suara itu.Ah..ternyata Sang Bulan, ini Minggu sore,ia pasti kesini.
Lagi dan lagi,keengganan akan hal tentang Bulan merasuki Awan,
Namun sangat sulit untuk tidak tersenyum kepada gadis itu.
Lutut Awan lemas untuk berlama – lama di hadapan Bulan.
Satu langkah berbalik,namun ia kembali,memegang kedua bahu Bulan,
“Bulan,3 tahun aku rasa sudah cukup untuk memendamnya.Aku tahu aku tak pantas,maaf aku lancang dan terlambat untuk mengungkapkan bahwa AKU CINTA KAMU,dan kamu harus tahu itu!”
“Kenapa baru sekarang?Kenapa?”
“Karena aku takut tidak ada kesempatan lagi…”
Lalu Awan berlalu..
Satu bulan pun berlalu.
Membiarkan Bulan bertanya – tanya dan mencarinya dengan rasa sesak dan penyesalan,
Bahwasanya ia menyimpan perasaan itu untuk Awan,namun pupus karena keraguan akan perasaan Awan yang tak kunjung terucap.
Namun sekarang,penyesalan itu semakin menyesakkan.
Awan terbaring lemah bersama selang infus yang menemani raganya
Matanya terpejam,entah sedang berada dimana jiwanya
Bulan mendekatinya,meraih dan menggenggam tangan kanannya
“Kamu tahu..aku wanita yang punya perasaan,yang peka.Aku menunggu kamu sampai aku ragu. Mungkin adil,kita sama – sama meragu.Mungkin aku juga terlambat,tapi kamu harus tahu,AKU JUGA CINTA KAMU,Awan..”
Terlalu munafik dan naif untuk tidak menangis.
Ternyata Awan tak bisa berlama – lama..
Tangisan Bulan semakin menderas,
berharap Awan sempat mendengarkannya.
Hanya bisa..berharap.
