h1

Part 2 : I wanna say I love you,too

June 17, 2009

By Febi,7 Juni 2009

Dia Awan.
Berputus asa karena tak dapat memeluk Bulan
Tak dapat karena tak ada keberanian
Akhirnya hidupnya sendiri.Sendirian.
Suatu senja Awan berjalan di taman
Taman dimana bertemunya dengan Sang Bulan
Enggan untuk mengenangnya,wajahnya lagi – lagi lesu
Terbanting dengan bunga – bunga penuh warna di sekitarnya

“Awan!”, suara itu.Ah..ternyata Sang Bulan, ini Minggu sore,ia pasti kesini.
Lagi dan lagi,keengganan akan hal tentang Bulan merasuki Awan,
Namun sangat sulit untuk tidak tersenyum kepada gadis itu.
Lutut Awan lemas untuk berlama – lama di hadapan Bulan.
Satu langkah berbalik,namun ia kembali,memegang kedua bahu Bulan,
“Bulan,3 tahun aku rasa sudah cukup untuk memendamnya.Aku tahu aku tak pantas,maaf aku lancang dan terlambat untuk mengungkapkan bahwa AKU CINTA KAMU,dan kamu harus tahu itu!”
“Kenapa baru sekarang?Kenapa?”
“Karena aku takut tidak ada kesempatan lagi…”

Lalu Awan berlalu..
Satu bulan pun berlalu.
Membiarkan Bulan bertanya – tanya dan mencarinya dengan rasa sesak dan penyesalan,
Bahwasanya ia menyimpan perasaan itu untuk Awan,namun pupus karena keraguan akan perasaan Awan yang tak kunjung terucap.

Namun sekarang,penyesalan itu semakin menyesakkan.
Awan terbaring lemah bersama selang infus yang menemani raganya
Matanya terpejam,entah sedang berada dimana jiwanya
Bulan mendekatinya,meraih dan menggenggam tangan kanannya
“Kamu tahu..aku wanita yang punya perasaan,yang peka.Aku menunggu kamu sampai aku ragu. Mungkin adil,kita sama – sama meragu.Mungkin aku juga terlambat,tapi kamu harus tahu,AKU JUGA CINTA KAMU,Awan..”
Terlalu munafik dan naif untuk tidak menangis.
Ternyata Awan tak bisa berlama – lama..
Tangisan Bulan semakin menderas,
berharap Awan sempat mendengarkannya.
Hanya bisa..berharap.

h1

Wait! I Wanna Say I L U

June 17, 2009

By Febi,02 – 06 – 09

Sosok lelaki itu kini terlihat lesu
Kepalanya tertunduk,lalu ia bersandar di tembok putih di suatu koridor
Wajahnya muram
Matanya seperti mengisyaratkan bahwa ia kecewa.Sangat kecewa
Sedih dan merasa tolol
Bodoh dan lemah
Yap,sempurna.
Sempurna kesedihannya.
Terbayang sosok yang cantik dengan senyumnya yang merekah
Sosok yang menarik
Sosok yang ia cintai
Sosok yang sekarang tak akan bisa ia miliki.
Menyesal? Tentu
Lelaki itu menyesali kebodohannya yang membuatnya sulit mengungkapkan perasaannya.
Perasaan yang sudah 3 tahun dipendamnya
“Kembalilah..sebentar saja.Kamu harus tahu..”,lelaki itu meringis
Terbayang lagi perempuan itu,kali ini beda.Senyum indahnya sedang dibagi dengan seorang lelaki
Mereka tampak bahagia,bertukar cincin,dan berpelukan.
Lalu bayangannya terbuyar dengan rasa lelah.
Lelah seperti habis menangis.Padahal ia tidak menangis,mungkin hatinya.
Ia hampir tertidur di koridor tempat pertunangan itu dilaksanakan.
Namun tersadar lalu berdiri dan berjalan lemas.Pukul 23.45
Ia akan pulang,menutup harinya dengan sebuah kesadaran..
“It’s too late to say I love you.Too late”

to be continued..

h1

Merenung di Bawah Langit Malam

June 17, 2009

Malam kusambut dengan alunan gitarku
Di atas kursi bambu di balkon lantai dua
Aku berkawan dengan nyamuk
Dan bersama keheningan aku bernyanyi

Kualunkan terus gitarku
Menyanyikan lagu kesedihanku
Karena hanya itu
Yang bisa mengungkapkan isi hatiku

Tidak ada bintang malam itu
Langit sedang tidak mau tahu
Bahwa aku butuh cahaya
Biarpun sedikit.Satu bintang sudah cukup.

Lama – lama tanganku lelah
Petikan gitarku melemah
Senandungku terhenti
Kubiarkan semangatku berlari

Ingin rasanya melompat kebawah
Dengan angan ingin melupakan segalanya
Meninggalkan hidup
Tapi..
Aku bersyukur aku masih waras

Ah..
Aku telah melupakan keberadaanNYA
DIA yang tahu bagaimana aku harus melalui hari – hari beratku
Aku terlalu sibuk menjadi orang tolol yang pasrah saat keputus asaan menggila di otakku
Sampai – sampai melupakanNYA

Tak ada lagi lagu untuk malam ini
Tak ada lagi jemari menari memetik senar gitar
Tak ada lagi keinginan bodoh untuk berlari dari kenyataan
Sekarang,malam ini,saat ini,aku merenung.
Aku dan DIA. Itu akan lebih baik.

h1

Pak Bayu Sayang,Pak Bayu Malang

June 17, 2009

By Febi,30-05-09

Pak Bayu. Begitulah anak – anak memanggilnya
Lelaki tua berumur 63 tahun
yang 30 tahun mengabdi di sekolah
menjaga pintu gerbang
Setiap hari ia tidak pernah terlihat lesu
Selalu semangat menyapa tiap murid dan guru yang datang
Pak Bayu juga tak tega membiarkan anak yang terlambat bila harus pulang lagi.
Walau kadang dimarahi, ia selalu menerima.
Katanya,”Buat kalian,waktu teh ilmu,sayang atuh kalau gara – gara terlambat tidak bisa belajar? Kalau tidak belajar nanti jadi kurang ilmu,kalau kurang ilmu nanti mau kaya bapak?Mulai sekarang,jadi anak disiplin,jangan terlambat lagi,atuh..”
Anak – anak senang dengannya.
Bahkan tak jarang yang suka meluapkan keluh kesah dengan Pak Bayu.

Pak Bayu adalah kesayangan.

Suatu pagi,ada yang kurang.
Ya! Lelaki tua itu.Tak terdengar sapaan dengan logat Sunda-nya yang kental
Dimana Pak Bayu?
Satu hari..Tiga hari..Empat hari tanpa kabar.
Kata Pak Umar,tukang sapu di sekolah, Pak Bayu tidak ada kabar.
Ia juga heran sampai hari keempat masih tak ada kabar.

Sampai dirumah ku masih terpikir ada apa dengan Pak Bayu?
Ah..baru saja aku ingin memberinya baju – baju bekas Ayah.
Kunyalakan televisi untuk membuyarkan sejenak pikiran tentang Pak Bayu
Tayangan berita di sore hari.Pukul empat sore.
Berita tentang kematian seorang pria tua saat pembagian BLT.
Aku sudah bosan dengan berita ini. Ingin ku ganti channel nya,tapi terkejut seketika.
Terkejut mendengar sang pembawa berita berkata:
“Bayu Basuki, 63 tahun dikabarkan meninggal dunia karena terdorong – dorong hingga terjatuh saat mengantri BLT…”

Sekejap aku ternganga,mataku membelalak tak menyangka.
Pak Bayu yang ramah, Pak Bayu yang logat Sunda-nya masih kental,Pak Bayu pendengar yang baik..
Telah tiada..
Tapi mengapa? Mengapa harus begini caranya???
Aku tahu itu takdir,takdir yang tidak adil!
Apa karena kemiskinan hal ini terjadi?
Tidak adil.

Sungguh tidak adil apalagi untuk Pak Bayu.
Apa mau dikata..
Percuma saja menghujat atau meneteskan air mata.
Pak Bayu sayang,kini telah berpulang..
Selamat jalan..Pak Bayu.

h1

Upik Ada Disana

June 17, 2009

By Febi, 29-05-09

Namanya Upik. Gadis biasa dari desa.
Seorang anak yatim, ibunya hanya seorang ani – ani.
Putus sekolah di usia 16
demi masa depan adiknya yang berumur 11.

Ia beradu nasib di negri Jiran.
Mengumpulkan pundi – pundi bulan demi bulan.
Diterimanya hinaan dan siksaan
Tapi Upik tetap bertahan.

Tiada malam untuk Upik.
Tiada malam sama saja tidak tidur.
Tiada tidur sama saja tak istirahat.
Upik sabar.

Sang Tuan pergi bertamasya
Upik pun mendapatkan malamnya,
Tubuhnya yang memar dan kurus dibaringkannya.
Sambil menangis ia berdoa.

“Upik rindu emak.Rindu sama adik”
Matanya berkaca – kaca.
“Upik ingin pulang..tapi kalian butuh uang”
Iapun menangis dalam malam.
Menangisi kesedihannya.

h1

Berbicara Pada Fajar

June 17, 2009

By Febi, 29-05-09

Kujejalkan tapak – tapak kakiku di hamparan pasir
Lalu kawanan ombak menyambar jari – jari kakiku lembut
ia berkata,” Hiburlah aku,aku sedih batu – batu karang telah habis terkikis”.
“Bagaimana bisa orang yang sedih menghibur?” jawabku ketus.
Lalu ia tertarik ke lautan.

Pasir – pasir seperti menahan langkahku,
kemudian berbisik,” Ukirlah namamu di hamparanku,ukirlah dengan indah!”.
Aku menggertak, “Bagaimana bisa orang yang tidak mengenal siapa dirinya menulis namanya?”
Ia diam,kemudian tersapu ombak.

Nyiur melambai – lambai.Ternyata memanggil aku.
“Menarilah bersamaku,nikmatilah ratusan menit yang tersisa di hari ini!”
“Aku terlalu lelah untuk melakukannya”.
Angin berhenti meniupnya untuk terus menari – nari.
Aku tahu ia berpikir aku menjengkelkan.Aku lantas pergi.

Kulelah dengan apa yang kulalui.
Mereka memang menderita,tapi tak lebih dari aku.
Akupun telah mengecewakan,tapi karena aku yang terlebih dahulu dikecewakan oleh kenyataan.
Salahkah?

Kuhentikan langkah,kusandarkan tubuhku di batu besar.
Batu itu dingin,diam.
Kutatap diseberang sana, Sang Jingga.
Sinarnya memantulkan kilau – kilau dan warna – warna indah di lautan.
Jujur,aku terpana..
Terdengar suara indah.Namun bukan telingaku yang melakukannya.
Hatiku? Ah tapi bukan suara hati.
Itu suara Sang Fajar.Ia memanggil namaku.
Menjawab tanda tanya yang kucari selama ini.

“Kau mengenalku?”
“Ya,tentu saja aku mengenalmu”
“Bagaimana bisa kau tahu namaku? Kau menjumpai ribuan,oh tidak! Jutaan jiwa di dunia ini”
“Aku selalu memperhatikan orang – orang yang tidak bahagia disaat aku bersinar,bahkan disaat aku tidak menyinarinya.Kau kosong.Hidupmu hampa.”
“Lalu mengapa kau memperhatikannya?”
“Kau tahu? Sedih rasanya bila sinarku terasa tidak berguna bagi satu orang saja”
“Tapi hanya satu jiwa seperti aku,apalah artinya..”
“Kau adalah salah satu alasan mengapa aku diciptakan,dan mengapa aku menjadi berguna”
“Aku tidak berarti untuk apapun dan siapapun.Lihatlah aku,sendirian!”
“Itulah yang membuatmu seperti ini,memandang semua dengan pikiran pesimismu.”
“Tapi itu..kenyataan”
“Tapi itu bukan kodrat!”
“Aku ingin seperti kau,bersinar untuk semua orang,dan berguna..”
“Kau akan bersinar dengan caramu”
“Bagaimana?”
“Bertekadlah.Perlahan kau akan berbahagia.Sebentar lagi bulan dan bintang akan datang.Lepaskanlah lelahmu,jangan kau terjaga karena mereka akan menjagamu”
“Lalu?”
“Esok kan kujumpai kau,kuberitahukan padamu apa itu keindahan hidup”

Kuterdiam.Kupandangi ia perlahan tenggelam.Pergi menyinari bagian dunia yang lain demi keseimbangan.
Kusadari pipiku merona,mataku memancarkan harapan,dan..
Aku tersenyum..

h1

3 Baris Tanpa Jawaban

June 17, 2009

By Febi, 29-05-09

Aku dan dia duduk di teras rumahnya yang sederhana.
Suasananya asri.
Di depan ada tanaman bunga – bunga.
Samping kanan ada kolam ikan,gemericik airnya terdengar tenang.
Sambil menikmati keasrian,kuhirup udara pagi yang segar.
Pejamkan mata,menghempaskan karbondioksida yang dilepas dari alveolusku.
Dan kututurkan pertanyaan kepadanya..

Kawan,
Berikan aku satu alasan,
mengapa matahari terasa redup tanpa sahabat?
Kawan,
Berikan aku satu jawaban,
mengapa kekasih tidak setulus sahabat?
Adakah jawabannya?

Ia menjawab dengan senyum khas nya,tersirat kebingungan di wajahnya.
“Aku tahu. Karena sahabat akan selalu ada untuk kamu”
“Bukan orang yang datang dan berlalu begitu saja”
“Dan juga..mereka tulus dan tidak tega melukai hati sahabatnya”

7 baris pertanyaanku dijawab dengan 3 baris jawabannya.
Namun ada 3 baris lagi yang terasa berat untuk diucap. Tapi terlanjur terlontar.
“Kawan,
Berikan aku satu alasan..
Mengapa kamu tidak seperti 3 baris jawabanmu?”

Akupun berlalu dengan rasa bersalah.
Tapi lega,karena pertanyaan itu terucapkan jua.
Meski tak sebarispun jawabannya..

h1

Seperti di Balik Jendela

June 17, 2009

By Febi, 25-05-09

Ku buka jendela kamar
Mempersilahkan cahaya yang memberi salam untuk masuk
Ku tatap sekilas dari dalam kamarku
Embun yang sudah berdatangan ke atas rumput
Udara belum tercemar.masih segar
Gadis kecil lewat depan rumahku dengan sepedanya
Seorang pria yang menggandeng istri dan anak lelakinya,
mengitari komplek
Ahh..minggu pagi..

Tapi..
Bukan gadis kecil yang aku pikirkan.
Ataupun pria dengan istri dan anak lelakinya itu.
Tapi..
Aku. Aku dan jendelaku.

Tertawalah lalu bingung.Aku pun begitu.
Rasanya aneh.Tapi begitulah yang aku rasa.
Perasaan yang disertai sebuah angan :
Andai hatiku seperti jendela.
Dapat dilihat apa yang ada dibaliknya.
Dilihat dan dimengerti.
Agar aku bisa mengerti diri sendiri.

h1

Sejenak Hati Berucap

June 17, 2009

By Febi, 24-05-09

Kamu seperti behel
Menyakitkan.
membuatku sulit untuk berbicara.

Kamu seperti ular
Yang aku benci tapi aku takut.
dan selalu terdiam bila ada kamu.

Kamu seperti harapan
Yang tak jelas dan bisa sirna.
Tanpamu aku putus asa..

Ingin lepas dari ketergantungan akan kamu
yang menyiksa batin dan hari – hariku.
Aku rela kau anggap benalu,
agar kamu biarkanku berlalu..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.